oleh Diskominfo Merangin | Kamis, 19 Maret, 2026 | berita
Ahmad Khoiruddin AS atau dikenal Akhoi, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Merangin, telah merilis Twibbon Idul Fitri 1447 H milik Pemerintah Kabupaten Merangin. Twibbon ini disampaikan kepada seluruh masyarakat, khususnya masyarakat Kabupaten Merangin baik yang berada di dalam maupun di luar wilayah Kabupaten Merangin.
Sebagai bagian dari rangkaian menyambut hari kemenangan umat muslim, Akhoi menyatakan bahwa tujuan peluncuran twibbon ini adalah agar gema dan semarak Idul Fitri dapat terasa lebih meriah dan menyatu di antara seluruh lapisan masyarakat. Melalui penggunaan twibbon yang dapat diakses dengan mudah di berbagai platform media sosial, diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi serta memperkuat rasa kebersamaan dalam merayakan momen suci ini.
“Silakan manfaatkan Twibbon Idul Fitri 1447 H ini untuk merayakan hari raya Idul Fitri tahun ini. Jadikan sebagai sarana untuk menyampaikan ucapan selamat dan mempererat hubungan antar sesama,” ujar Akhoi.
Tak hanya itu, Akhoi juga tidak lupa menyampaikan permohonan maaf secara terhormat. Atas nama pribadi, keluarga, Dinas Kominfo Kabupaten Merangin, serta Pemerintah Kabupaten Merangin, ia menyadari bahwa selama ini dalam pergaulan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat pasti terdapat berbagai kesalahan dan kekurangan. “Untuk itu, kami mengucapkan Selamat Idul Fitri 1447 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kesalahan kita semua, serta silaturahmi kita tetap terjalin dengan baik dan erat,” pungkasnya.
Twibbon Idul Fitri 1447 H Merangin BARU dapat diakses melalui link https://twb.nz/fitri47
(Kominfo Merangin)
oleh Diskominfo Merangin | Rabu, 18 Maret, 2026 | Artikel
Oleh Ahmad Khoiruddin AS
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Merangin
Idul Fitri merupakan momentum sakral bagi umat Muslim setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Momen hari raya ini menjadi titik temu kebahagiaan setelah melalui berbagai latihan kesabaran, keteguhan hati, serta nilai-nilai kedermawanan yang diasah selama bulan Ramadhan. Tidak hanya dirasakan oleh umat Muslim, kedatangan Idul Fitri juga membawa kegembiraan bagi seluruh lapisan masyarakat, karena hari raya ini berfungsi sebagai wadah untuk menyatukan hati dan mempererat tali silaturahmi antar sesama manusia.
Sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa telah memberikan pelajaran mendalam terkait kedisiplinan diri dan empati sosial. Bahkan menjelang momen Idul Fitri, berbagai upaya dilakukan secara maksimal untuk menyambutnya dengan penuh khidmat dan kegembiraan. Aktivitas tersebut mencakup tradisi mudik lebaran yang menjadi sarana untuk kembali ke lingkungan keluarga asal, pemilihan pakaian lebaran sebagai bentuk penghormatan terhadap momen suci, persiapan aneka kue serta hidangan lebaran yang akan disajikan bersama sanak saudara, hingga kegiatan pembersihan rumah tangga dan lingkungan sekitar untuk menyambut kedatangan tamu serta keluarga dengan suasana yang nyaman dan bersih.
Namun demikian, terdapat satu hal yang tidak boleh terlewatkan dan harus terus dijaga, yaitu nilai silaturahmi. Nilai ini menjadi inti serta tujuan utama dari hari raya Idul Fitri. Silaturahmi diwujudkan melalui hubungan anak kepada orang tua sebagai bentuk wujud rasa hormat dan kasih sayang, saudara kepada saudara untuk mempererat tali persaudaraan, teman kepada teman untuk memperkuat ikatan persahabatan, tetangga kepada tetangga untuk menjaga keharmonisan lingkungan hidup, serta seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Saling memberi serta meminta maaf menjadi tradisi yang mulia dan patut dilestarikan. Bahkan dalam beberapa kasus, pihak yang tidak memiliki kesalahan pun secara sukarela meminta maaf dan memberikan maaf; pada titik inilah terkandung keindahan nilai-nilai Idul Fitri yang mengajarkan kita untuk hidup dengan sikap rendah hati dan saling memaafkan.
Selain itu, dalam suasana kegembiraan Idul Fitri yang seringkali diisi dengan kegiatan silaturahmi dan mungkin juga waktu untuk berliburan, terdapat aspek penting yang tidak boleh ditinggalkan, yaitu ibadah. Selama satu bulan penuh, kita telah mendapatkan pembinaan melalui berbagai amalan dan ibadah selama bulan Ramadhan. Oleh karena itu, nilai-nilai serta kedisiplinan ibadah tersebut tidak boleh hilang begitu saja setelah hari raya berakhir. Sholat fardhu serta ibadah lainnya harus tetap dilaksanakan dengan konsisten, menjaga keutuhan ibadah sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita sebagai umat Muslim.
Selamat merasakan kegembiraan hari raya, selamat bersilaturahmi, serta selamat berlibur. Semoga Idul Fitri 1447 H dapat membawa berkah dan kebaikan yang melimpah bagi kita semua.
(Kominfo Merangin)
oleh Diskominfo Merangin | Selasa, 17 Maret, 2026 | Artikel
Oleh. Ahmad Khoiruddin AS
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Merangin
Istilah mudik merupakan istilah yang sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia, merujuk pada perjalanan pulang ke kampung halaman atau tempat asal, biasanya dilakukan pada momen-momen besar seperti hari raya Idul Fitri. Kata ini sendiri berasal dari bahasa Jawa “mulih dalem” yang berarti kembali ke tempat asal, dan seiring waktu menjadi istilah yang digunakan secara luas di seluruh wilayah negara ini.
Mudik Lebaran merupakan tradisi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya bangsa Indonesia. Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai kekeluargaan, rasa hormat terhadap leluhur, serta keinginan untuk berkumpul bersama orang tersayang setelah menjalani bulan suci Ramadhan yang penuh dengan ibadah dan introspeksi diri.
Tujuan mudik antara lain untuk berkumpul dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga besar, memberikan salam hormat kepada orang tua dan kerabat yang lebih tua, serta mempererat tali silaturahmi yang mungkin telah jarang terjaga akibat kesibukan di kota. Selain itu, mudik juga menjadi kesempatan untuk kembali mengenal akar budaya dan tanah kelahiran yang telah membentuk identitas diri setiap individu.
Sehingga mudik menjadi wajib dalam pandangan sebagian besar masyarakat Indonesia, bukan hanya sebagai bentuk kewajiban keluarga, namun juga sebagai cara untuk merenungkan makna kebersamaan dan kembali pada akar budaya yang menjadi dasar kehidupan bermasyarakat. Tradisi ini memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa di tengah keragaman suku dan budaya yang ada.
Mudik tetap memperhatikan aspek keamanan di jalan, mulai dari memastikan kendaraan dalam kondisi prima, mengikuti peraturan lalu lintas, menghindari mengemudi dalam kondisi lelah, serta selalu menjaga jarak aman dengan kendaraan lain. Dan jangan lupa rumah dan barang yang ditinggal, pastikan untuk mengunci pintu dan jendela dengan rapi, mematikan peralatan listrik yang tidak terpakai, serta meminta bantuan tetangga atau keluarga terdekat untuk menjaga keamanan tempat tinggal selama berpergian.
Selamat mudik, semoga selamat sampai tujuan dan dapat bertemu orang-orang yang dicintai dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian. Semoga perjalanan lancar dan kampung halaman tercinta menyambut kedatangan dengan hangatnya kasih sayang keluarga.
Selamat menyambut Idul Fitri 1447 H dengan penuh kegembiraan, berkah, dan kebaikan. Semoga amal ibadah kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT, dan kita dapat menjalani hari raya dengan penuh rasa syukur serta saling memaafkan satu sama lain.
(Kominfo Merangin)
oleh Diskominfo Merangin | Senin, 16 Maret, 2026 | Artikel
Oleh. Ahmad Khoiruddin AS
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Merangin
Media Sosial menjadi kebutuhan primer di era digitalisasi saat ini. Teknologi yang berkembang pesat telah mengubah cara berkomunikasi dan berinteraksi antar manusia, sehingga hampir bagi seluruh manusia modern menganggapnya sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Sehingga orang saat ini hampir tidak bisa dipisahkan dengan gadget dan media sosial. Mulai dari berbagi informasi sehari-hari, menjalin hubungan sosial dengan keluarga dan teman, hingga menjalankan aktivitas ekonomi dan bisnis, semuanya dapat dilakukan melalui berbagai platform media sosial yang ada saat ini.
Banyak dampak positif dari media sosial yang kita rasakan. Di satu sisi, ia memudahkan akses informasi terkini dari berbagai sumber, mempererat tali silaturahmi antar orang yang berjauhan jarak dan waktu, serta menjadi sarana yang efektif bagi pelaku usaha untuk memasarkan produk dan jasa mereka secara luas ke berbagai kalangan. Banyak pula inovasi dan kreativitas yang lahir berkat adanya ruang ekspresi bebas di media sosial, yang membuka peluang baru bagi banyak orang untuk mengembangkan potensi diri.
Tapi ada juga dampak negatif yang tak bisa kita abaikan. Di antaranya penyebaran berita bohong (hoaks), ujaran kebencian yang memecah belah persatuan, serta penyalahgunaan data pribadi yang dapat membahayakan keamanan individu. Namun, yang menjadi perhatian dan kewaspadaan utama bagi masyarakat adalah bahaya penipuan melalui media sosial. Beberapa contoh modus yang sering digunakan antara lain penipuan melalui penawaran produk palsu dengan harga sangat murah, program investasi bodong yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat, atau bahkan penipuan yang menyamar sebagai pihak berwenang atau anggota keluarga yang sedang mengalami kesusahan mendadak untuk meminta bantuan uang.
Apalagi mendekati momen Idul Fitri seperti saat ini, potensi terjadinya penipuan semakin tinggi. Misalnya, munculnya penawaran paket mudik dengan harga sangat terjangkau tapi tidak memiliki dasar kebenaran, penjualan pakaian Lebaran atau sembako yang dipromosikan menarik namun barang tidak pernah sampai ke tangan pembeli, hingga modus pemintaan sedekah atau bantuan dana untuk keperluan persiapan hari raya yang ternyata merupakan tipuan semata. Penipu cenderung memanfaatkan suasana heboh dan keinginan masyarakat yang ingin bersiap-siap menyambut Idul Fitri dengan baik, sehingga target korban lebih mudah terpancing dan terjebak dalam perangkap mereka.
Untuk itu setiap kita harus berhati-hati dan meningkatkan kecermatan dalam menggunakan media sosial, serta selalu waspada dari penipuan yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain tidak mudah terpikat dengan penawaran yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, selalu memverifikasi keaslian informasi dan identitas penjual atau pihak yang menawarkan sesuatu sebelum melakukan transaksi apapun, tidak sembarangan memberikan data pribadi atau informasi keuangan penting kepada pihak yang tidak dikenal, serta segera melaporkan setiap bentuk dugaan penipuan kepada pihak berwenang seperti kepolisian atau pihak pengelola platform media sosial terkait agar dapat ditindaklanjuti.
(Kominfo Merangin)
oleh Diskominfo Merangin | Minggu, 15 Maret, 2026 | Artikel
Oleh Ahmad Khoiruddin AS
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Merangin
Mudik Lebaran adalah salah satu budaya paling dalam yang dijunjung tinggi oleh umat Muslim pada setiap musim kemenangan. Tradisi yang telah mengakar selama bertahun-tahun ini menjadi momen yang selalu dinantikan, di mana masyarakat berduyun-duyun kembali ke kampung halaman untuk menyambut hari bahagia bersama orang tersayang.
Bagi setiap individu yang tinggal jauh dari kampung halaman, keinginan untuk pulang kampung tumbuh semakin mendalam seiring dengan menjelangnya Idul Fitri. Tujuan utamanya adalah bertemu orang tua, keluarga, dan sanak saudara, sekaligus merayakan kebersamaan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Sayangnya, tidak semua orang dapat mewujudkan keinginan tersebut—alasan ekonomi, tuntutan pekerjaan, atau faktor lainnya terkadang menjadi penghalang yang tak terhindarkan untuk melakukan perjalanan pulang kampung.
Sebelum memasuki era 2000-an, mereka yang tidak dapat mudik biasanya akan meluangkan waktu dan kesabaran untuk menulis surat atau mengirim kartu ucapan Lebaran. Meskipun prosesnya membutuhkan waktu, hal tersebut justru menjadi cara yang sangat berharga untuk menyampaikan rasa rindu yang mendalam dan ucapan selamat yang tulus. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan gelombang digitalisasi yang datang sejak awal tahun 2000, umat Muslim mendapatkan kemudahan yang luar biasa. Kini, seseorang cukup melakukan panggilan telepon, menulis pesan singkat, atau menyampaikan ucapan melalui perangkat ponsel yang selalu berada di genggaman. Bahkan saat ini, kemudahan tersebut semakin meningkat dengan adanya fitur panggilan video yang memungkinkan kita bertatap muka langsung, atau sekurang-kurangnya membuat ucapan melalui berbagai platform media sosial maupun aplikasi yang dapat dikirim dan diterima secara instan.
Meskipun era digitalisasi telah menyederhanakan banyak aspek kehidupan, termasuk cara kita berkomunikasi, silaturahim secara langsung dengan orang tua, keluarga, dan sanak saudara tetap menjadi prioritas utama jika tidak ada alasan yang menghalangi. Teknologi hanya berperan sebagai alternatif yang membantu kita tetap terhubung satu sama lain, bukan sebagai pengganti yang sempurna dari kehangatan kebersamaan secara fisik.
Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menyambut momentum Idul Fitri yang sebentar lagi tiba dengan hati yang lapang dan penuh kesediaan untuk meminta maaf serta memaafkan sesama. Semoga silaturahmi kita tetap terjaga dengan baik, baik secara langsung maupun melalui sarana digital. Semoga pula ibadah puasa yang telah kita jalankan diterima dengan penuh rahmat oleh Allah SWT.
(Kominfo Merangin)