Oleh Ahmad Khoiruddin AS
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Merangin

Mudik Lebaran adalah salah satu budaya paling dalam yang dijunjung tinggi oleh umat Muslim pada setiap musim kemenangan. Tradisi yang telah mengakar selama bertahun-tahun ini menjadi momen yang selalu dinantikan, di mana masyarakat berduyun-duyun kembali ke kampung halaman untuk menyambut hari bahagia bersama orang tersayang.

Bagi setiap individu yang tinggal jauh dari kampung halaman, keinginan untuk pulang kampung tumbuh semakin mendalam seiring dengan menjelangnya Idul Fitri. Tujuan utamanya adalah bertemu orang tua, keluarga, dan sanak saudara, sekaligus merayakan kebersamaan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Sayangnya, tidak semua orang dapat mewujudkan keinginan tersebut—alasan ekonomi, tuntutan pekerjaan, atau faktor lainnya terkadang menjadi penghalang yang tak terhindarkan untuk melakukan perjalanan pulang kampung.

Sebelum memasuki era 2000-an, mereka yang tidak dapat mudik biasanya akan meluangkan waktu dan kesabaran untuk menulis surat atau mengirim kartu ucapan Lebaran. Meskipun prosesnya membutuhkan waktu, hal tersebut justru menjadi cara yang sangat berharga untuk menyampaikan rasa rindu yang mendalam dan ucapan selamat yang tulus. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan gelombang digitalisasi yang datang sejak awal tahun 2000, umat Muslim mendapatkan kemudahan yang luar biasa. Kini, seseorang cukup melakukan panggilan telepon, menulis pesan singkat, atau menyampaikan ucapan melalui perangkat ponsel yang selalu berada di genggaman. Bahkan saat ini, kemudahan tersebut semakin meningkat dengan adanya fitur panggilan video yang memungkinkan kita bertatap muka langsung, atau sekurang-kurangnya membuat ucapan melalui berbagai platform media sosial maupun aplikasi yang dapat dikirim dan diterima secara instan.

Meskipun era digitalisasi telah menyederhanakan banyak aspek kehidupan, termasuk cara kita berkomunikasi, silaturahim secara langsung dengan orang tua, keluarga, dan sanak saudara tetap menjadi prioritas utama jika tidak ada alasan yang menghalangi. Teknologi hanya berperan sebagai alternatif yang membantu kita tetap terhubung satu sama lain, bukan sebagai pengganti yang sempurna dari kehangatan kebersamaan secara fisik.

Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menyambut momentum Idul Fitri yang sebentar lagi tiba dengan hati yang lapang dan penuh kesediaan untuk meminta maaf serta memaafkan sesama. Semoga silaturahmi kita tetap terjaga dengan baik, baik secara langsung maupun melalui sarana digital. Semoga pula ibadah puasa yang telah kita jalankan diterima dengan penuh rahmat oleh Allah SWT.

(Kominfo Merangin)