Renungan Menjelang Akhir Ramadhan 1447 H

Oleh. Ahmad Khoiruddin AS
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Merangin

Rasanya baru saja kita bersama-sama mengucapkan sapaan hangat “Marhaban Ya Ramadhan” dengan penuh harapan dan semangat baru. Matahari bergulir, hari demi hari berlalu seperti aliran sungai yang tak pernah berhenti, dan kini bulan suci Ramadhan 1447 H tinggal menghitung hari saja sebelum kita mengucapkan selamat tinggal sambil membentangkan tangan memohon agar diberikan kesempatan untuk bertemu lagi di tahun depan. Saat momen refleksi ini tiba, sungguh pantas kita menghentikan sejenak langkah kita dan menanyakan pada diri sendiri: apa sebenarnya yang telah kita peroleh dari bulan yang dipenuhi berkah ini? Apakah kita termasuk orang yang berhasil menuai keberkahan atau justru menjadi orang yang merugi karena sia-siakan kesempatan emas yang tak terulang dengan mudah?

Sebuah kebenaran yang tak bisa kita pungkiri adalah bahwa setiap insan di muka bumi ini diberikan porsi waktu yang sama. Detik demi detik berlalu dengan kecepatan yang sama bagi semua orang – bagi yang berdiri di puncak kesuksesan duniawi maupun yang masih merangkak berjuang di setiap langkah jalan kehidupan. Namun, hasil yang diperoleh dari waktu yang sama itu bisa sangat berbeda-beda seperti langit dan bumi. Perbedaannya tidak terletak pada berapa banyak waktu yang kita miliki, melainkan pada bagaimana kita memahami makna dari setiap momen yang diberikan, terutama ketika momen tersebut adalah sebuah kesempatan besar yang hanya datang sekali setahun: bulan Ramadhan.

Bagi orang yang benar-benar memahami esensi dan nilai yang terkandung dalam bulan suci ini, mereka akan menghadapinya dengan keseriusan yang mendalam dalam setiap amal ibadah yang mereka kerjakan. Mereka tidak hanya menjalankan puasa sebagai kewajiban yang harus dipenuhi semata, melainkan mengisi setiap detik waktu dengan ibadah sunnah yang melimpah – membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, memperbanyak doa dengan hati yang tulus, berzikir hingga lantunan kalimat cinta kepada Sang Pencipta mengalir dari dalam diri, dan dengan segenap hati serta jiwa berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. Mereka melihat Ramadhan bukan sebagai beban yang membebani bahu, melainkan sebagai ladang amal yang luas dan subur yang hanya terbuka dalam waktu singkat, tempat di mana setiap kebaikan akan digandakan pahalanya hingga tak terhitung jumlahnya, dan setiap kesalahan yang pernah kita perbuat memiliki peluang emas untuk diampuni.

Namun berbeda dengan mereka yang belum mampu menyadari makna sebenarnya dari bulan suci yang penuh berkah ini. Bagi mereka, Ramadhan hanyalah musim biasa saja – hanya sekadar berhenti makan dan minum dari terbitnya fajar hingga matahari terbenam, tanpa ada perubahan yang signifikan dalam pola pikir, sikap, maupun perilaku sehari-hari. Mereka tetap terjebak dalam lingkaran rutinitas duniawi yang tak pernah berubah, tanpa ada usaha sedikit pun untuk meningkatkan kualitas diri untuk beribadah kepada Allah SWT. Akhirnya, ketika Ramadhan berlalu dan suara takbir Idul Fitri bergema, mereka hanya merasa lega karena bisa kembali ke “kebiasaan lama” yang telah mereka kenal. Tanpa menyadari bahwa mereka telah melewatkan kesempatan berharga yang mungkin tidak akan datang lagi dengan kondisi yang sama persis seperti sekarang.

Ramadhan ini, marilah kita bersama-sama bertekad untuk menjadi orang yang “ringan” dalam segala hal yang baik dan mulia. Ringan beribadah – bukan berarti kita mengerjakan ibadah dengan asal-asalan atau setengah hati, melainkan ibadah kita tidak menjadi beban yang membebani diri sendiri maupun orang di sekitar kita. Kita menjalankannya dengan hati yang tulus dan penuh kesadaran akan kebesaran Sang Pemberi Nikmat, sehingga setiap amalan yang kita lakukan terasa ringan dan bahkan menyenangkan di hati. Ringan membantu sesama – tidak pernah menunggu panggilan resmi atau janji imbalan sebelum memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Kita dengan sukarela dan ikhlas membantu saudara-saudara kita yang sedang kesusahan, tanpa merasa telah melakukan sesuatu yang luar biasa atau menginginkan pujian dari orang lain. Ringan berbuat baik – kebaikan yang kita berikan bukan hanya terbatas kepada orang yang kita kenal atau yang telah berbuat baik kepada kita, tetapi juga kepada semua makhluk Allah tanpa pandang bulu, tanpa memandang status sosial atau latar belakang mereka. Kita menjadikan kebaikan sebagai bagian dari kehidupan kita yang alami, bukan sebagai sesuatu yang dipaksakan atau dilakukan karena terpaksa.

Terutama dalam 10 hari terakhir Ramadhan ini – saat pintu-pintu surga semakin lebar terbuka dan pintu-pintu neraka semakin tertutup rapat, saat ampunan dan kebaikan Allah SWT melimpah seperti air yang mengalir deras – marilah kita erat-eratkan ikat pinggang kita untuk meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan: Lailatul Qadar. Malam yang penuh berkah ini bisa tiba di salah satu dari 10 malam terakhir Ramadhan, dan kita tidak pernah tahu kapan tepatnya ia akan mengunjungi kita. Oleh karena itu, tidak ada waktu yang boleh kita sia-siakan lagi dengan urusan duniawi yang tak akan pernah berkesudahan – harta benda yang bisa datang dan pergi sewaktu-waktu, jabatan yang hanya sementara dan akan berpindah tangan kelak, serta kesibukan yang jika tidak diatur dengan baik akan menjauhkan kita dari tujuan akhir hidup kita sebagai hamba Allah.

Marilah kita jadikan segala hal yang kita miliki di dunia ini sebagai modal untuk meningkatkan kualitas ibadah kita. Harta yang kita kumpulkan dengan susah payah bisa kita gunakan untuk membayar zakat yang menjadi hak orang lain, memberikan infak dan sedekah kepada mereka yang kurang mampu, serta membantu saudara-saudara kita yang sedang dalam kesulitan. Jabatan yang kita emban dengan penuh tanggung jawab bisa kita jadikan sebagai wadah untuk melayani masyarakat dengan sepenuh hati dan menyebarkan kebaikan ke setiap sudut yang bisa kita capai. Kesibukan yang memenuhi hari-hari kita bisa kita susun dengan baik dan teratur sehingga tetap ada waktu yang cukup untuk beribadah, membaca Al-Qur’an, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semua hal yang kita miliki di dunia ini bukanlah tujuan akhir kita, melainkan sarana dan alat untuk mendapatkan ridha-Nya serta memastikan bahwa setiap amal ibadah yang kita lakukan diterima dengan penuh rahmat dan kasih sayang-Nya.

Sebagai penutup, marilah kita bersama-sama panjatkan doa yang tulus dan ikhlas kepada Allah SWT, agar diberikan kesehatan jasmani dan rohani yang penuh sehingga kita bisa menyelesaikan ibadah Ramadhan ini dengan sempurna hingga hari terakhirnya. Semoga pula Allah merahmati kita dengan memberikan umur yang panjang dan berkualitas, sehingga kita bisa bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan di tahun depan dengan kesempatan yang lebih baik untuk memperbaiki diri dan mengumpulkan pahala yang lebih banyak lagi. Karena sesungguhnya, tidak ada kehilangan yang lebih besar dan menyakitkan daripada kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keberkahan dari Allah SWT – oleh karena itu, jangan pernah menjadi orang yang merugi.

(Kominfo Merangin)